.

KAFALAH

1. Pengertian Kafalah

Kafalah (jaminan/garansi) memiliki beberapa istilah dalam bahasa arab yg memiliki makna yg sama yaitu al-dhamanah, hamalah dan za’aamah. Menurut istilah, kafilah adalah jaminan yg diberikan oleh kafil (penanggung) kepada pihak ketiga atas kewajiban yg harus ditunaikan pihak kedua (tertanggung),atau kafalah dalam hal ini adalah suatu bentuk perbuatan menolong orang lain dengan cara menjamin seseorang yg berhutang, yang tidak mampu membayarnya dihadapan pemberi hutang, baik dengan harta atau dirinya sendiri.

Ada empat unsure kafalah yaitu al- kafil (penjamin, al-sil (yang berhutang), al-makful lahu (yang member utang, yang mendapat jaminan), dan al-makful bih (yang dipertanggungkan).

 

2. Dasar Hukum Kafalah

Dasar hukum untuk akad member kepercayaan ini dapat dipelajari dalam al-Qur’an pada yang mengisahkan Nabi Yusuf sebagai berikut :

a. Al-Qur’an

Allah berfirman dalam Q.S Yusuf: 72 :

Artinya : “ Penyeru-penyeru itu berseru, “kami kehilangan piala Raja, barangsiapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh makanan (seberat) beban unta dan aku menjamin terhadapnya”(Q.S. yusuf : 72)

b. Al-Hadits

Landasan Kafalah dipertegas dengan hadits Rasulullah :

“Telah dihadapkan kepada Rasulullah ..(mayat seorang laki-laki untuk dishalatkan). Rasulullah bertanya “apakah dia mempunyai warisan?” para sahabat menjawab “tidak” Rasulullah bertanya lagi, “apakah dia mempunyai hutang? “sahabat menjawab “ya, sejumlah tiga dinar” Rasulullah pun menyuruh para sahabat untuk menshalatkannya (tetapi beliau sendiri tidak). Lalu abu Qatadah berkata : “saya menjamin hutangnya ya Rasulullah” maka Rasulullah pun menshalatkan mayat tersebut, (HR. Bukhari no. 2127, kitab al-hawalah).

Disamping itu, hadits Rasulullah yang menjadi dasar hukum kafalah adalah “Pinjaman hendaklah dikembalikan dan yang menjamin hendaklah membayar.” (HR. Abu Dawud). Kafalah ini bermanfaat bagi orang yang memiliki kewajiban tetapi tidak sanggup atau ada factor-faktor yang membuatnya tidak dapat memenuhi kewajibannya itu maka dapat diambil alih oleh orang lain untuk menjaminnya.

 3. Rukun dan Syarat Kafalah

Menurut madzhab Hanafi bahwa rukun kafalah ada satu yaitu ijab dan qabul. Sedangkan menurut para ulama lainnya, bahwa rukun dan syarat al-kafalah adalah sebagai berikut:

a) Dhamin, kafil atau Zai’im, yaitu orang yg menjamin, dimana ia disyaratkan sudah baligh, berakal, tidak dicegah membelanjakan harta (mahjur) dan dilakukan dengan kehendaknya sendiri.

b) Makful lahu atau disebut juga dengan madmun lah, yaitu orang yang berpiutang atau orang yang memberi utang, syaratnya orang yang berpiutang diketahui oleh orang yang menjamin.

c) Makful ‘anhu atau disebut juga dengan madmun’anhu adalah orang yang berutang.

d) Makful bih atau madmun bih adalah utang, barang atau orang, disyaratkan pada makful bih dapat diketahui dan tetap keadaanya, baik sudah tetap atau akan tetap.

e) Lafadz, disyaratkan keadaan lafadz itu berarti menjamin, tidak digantungkan kepada sesuatu atau tidak sementara.

4. Jenis-Jenis Kafalah

Secara umum Kafalah dibagi menjadi dua bagian, yaitu Kafalah dengan jiwa dan kafalah dengan harta. Kafalah dengan jiwa dikenal pula dengan kafalah bil wajhi, yaitu adanya kesediaan pihak penjamin (al-kafil) untuk menghadirkan orang yang ia tanggung kepada yang ia janjikan tanggungan (Makful-lah) atau sebagian ulama al-sil. Sebagian ulama membenarkan adanya kafalah jiwa (kafalah bil wajh), dengan alas an bahwa Rasulullah SAW pernah menjamin urusan tuduhan. Namun menurut Ibnu Hazm, hadits yang menceritakan tentang penjamin Rasulullah SAW pada masa tuduhan bathil, karena hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibrahim bin Khaitsam bin Arrak, dia adalah dha’if dan tidak boleh diambil periwayatannya.

Kafalah yang kedua adalah kafalah harta, yaitu kewajiban yang mesti yang ditunaikan oleh dhamin atau kafil dengan pembayaran (pemenuhan) berupa harta. Kafalah harta ada 3 macam.

a)      Kafalah bi al dayn, yaitu kewajiban membayar utang yang menjadi beban orang lain. Dalam hadits salamah bin akwa disebutkan bahwa Nabi Saw tidak mau menshalatkan jenazah yang mempunyai kewajiban hutang. Dalam kafalah utang disyaratkan sebagai berikut :

  1. Utang tersebut bersifat mengikat/ tetap (mustaqir) pada waktu terjadinya transaksi jaminan, seperti utang qiradh, upah dan mahar. Sementara abu Hanifah, malik bin abu Yusuf berpendapat boleh menjamin suatu utang yang belum mengikat (ghairu mustaqir).
  2. Hendaklah barang yang dijamin diketahhui. Menurut madzhab syafi’I dan Ibnu Hazm, seseorang tidak sah menjamin barang yang tidak diketahui, sebab perbuatan tersebut adalah gharar, sementara Abu Hanifah, Malik dan Ahmad berpendapat bahwa seseorang boleh menjamin sesuatu yang tidak diketahui.

b)      Kafalah dengan penyerahan bend, yaitu kewajiban menyerahkan benda-benda tertentu yang ada ditangan orang lain, seperti mengembalikan barang yang dighasah dan menyerahkan barang jualan kepada pembeli. Dalam hal ini disyaratkan materi yang dijamin tersebut adalah untuk ashil seperti dalam kasus ghasah. Namun bila bukan berbentuk jaminan, maka kafalah batal.

c)       Kafalah dengan aib, maksudnya adalah jaminan bahwa jika barang yang dijual ternyata mengandung cacat, karena waktu yg terlalu lama atauhal-hal lainnya, maka penjamin (pembawa barang) bersedia memberi jaminan kepada penjual untuk memenuhi kepentingan pembeli (mengganti barang yang cacat tersebut).

5.  Jenis Kafalah dalam praktik perbankan

a. Kafalah bin Nafs

Jenis kafalah ini merupakan akad memberikan jaminan atas diri (personel guarantee). Sebagai contoh dalam praktik perbankan untuk kafalah ini yaitu seorang nasabah yang mendapat pembiayaan dengan jaminan nama baik dan ketokohan seseorang atau pemuka masyarakat. Walaupun bank secara fisik tidak memegang barang apapaun tetapi bank berharap tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah yang dibiayai mengalami kesulitan.

b. Kafalah bil Maal

Kafalah ini merrupakan jaminan pembayaran barang atau pelunasasn utang.

c. Kafalah Bit taslim

Jenis kafalah ini biasa dilakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa, pada waktu masa sewa berakhir.Jenis pemberian jaminan ini dapat dilaksanakan oleh bank untuk kepentingan nasabahnya dalam bentuk kerjasama dengan perusahaan penyewwaan (leasing company). Jaminan pembayaran bagi bagi bank dapat berupa deposito/tabungan dan bank dapat membebankan uang jasa/fee kepada nasabah itu.

d. Kafalah al Munazah

Kafalah al Munzah ini adalah jaminan mutlak yang tidk dibatasi oleh jangka dan untuk kepentingan/tujuan tertentu..

Salah satu bentuk kafalah al munazah adalah pemberian jaminan dalam bentuk performance Bonds (jaminan prestasi), suatu hal yg lazim dikalangan perbankan dan hal ini sesuai dengan bentuk akad ini.

e. Kafalah al Muallaqah

Bentuk jaminan ini merupakan penyederhanaan dari kafalah al munazah, baik oleh industry perbankan maupun asuransi.


Sumber :

– Ensiklopedia Islam

– Bank Syariah bagi Bankir & Praktisi Keuangan. M. Syafi’I Antonio. Hal. 191

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: